Kamis, 19 Maret 2015

HUKUM DAN REMISI YANG TEPAT DAN ADIL



            Timpang tindih hukum dan keadilan di Idonesia memicu pendangan masyarakat bahwa hukum di Indonesia “tajam ke bawah tumpul ke atas” terkesan hukum di Indonesia tidak objektif, tidak adil dan kurang tegas.

            Kasus yang menimpa seorang nenek berusia 63 tahun di Situbondo Jawa Timur yang diduga mencuri kayu jati di perhutani, terjerat hukuman delapan tahun penjara. Hukum tersebut sangat berat bagi nenek Asyani yang sudah renta, di usia yang renta nenek berusia 63 tahun ini harus menjalani hari-harinya dibalik jeruji besi selama delapan tahun. 

            Kasusu ini banyak menyita perhatian masyarakat. Masyarakat seakan selalu dibuat bimbang oleh hukum di Indonesia karena banyak kasusu-kasus yang terjadi di Negeri ini yang tak lepas dari hukum akan tetapi hukum di Indonesia seakan tidak memprioritaskan keadilan. Kasus yang menimpa nenek berusia 63 tahun, misalnya. Hukum ini sangat tajam bagi masyarakat kecil dan miskin. Sementara para koruptor yang sangat merugikan keuangan Negara dan secara tidak langsung membunuh ekonomi rakyat, hanya mendapat hukuman beberapa tahun saja, bahkan lebih kecil dari pada hukuman yang diberikan kepada rakyat kecil. Bukan itu saja bahkan MENKU HAM Yasonna H Laoly berencana mengajukan remisi untuk para narapidana korupsi dan hendak merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012 yang tak memperbolehkan narapidana, terorisme, narkotika dan korupsi memperoleh remisi dan pembebasan bersyarat. 

            Jika Menku HAM Yasonna H Laoly mengajukan remisi untuk para narapidana koruptor dengan berargumen karena remisi adalah hak untuk setiap narapidana dan tak ingin ada diskriminatif, siapa pun itu. Maka, apakah itu suatu keadilan hukum? Tentu, itu bukanlah keadilan hukum. Koruptor sudah seharusnya dihukum dengan seberat-beratnya untuk memberikan efek jera, atau minimal para koruptor dihukum dengan diambil semua asset-aset yang dimilikinya untuk mengganti uang Negara yang telah dimakan, dan jabatannya dilepaskan alias dipecat dari tugas sebagai wakil rakyat. Karena justru merekalah yang merampas hak-hak rakyat. Tentu, secara tidak langsung mereka telah melanggar HAM. Lantas, apakah adil jika remisi itu diberikan kepada orang-orang yang telah merampas hak-hak rakyat? Tentu, sangat tidak adil.

            Hukum yang adil bukan berarti hukum yang diberikan kepada terdakwah disamaratakan semua. Akan tetapi, selayaknya hukum yang diberikan para terdakwah memandang latar belakang terdakwa dan memandang kondisi psikologis terdakwa. Seperti kasus yang menimpa nenek berusia 63 tahun dari Situbondo Jawa Timur, kondisi ekonomi keluarga nenek tersebut yang terbilang miskin dan kondisi fisik yang memang sudah renta dan lemah bahkan untuk menghadiri sidang pun beliau sering tidak hadir, kerana memang kondisi fisik yang sudah lemah. Semestinya diberi keringan hukuman atau minimal diperingatkan saja untuk memberikan efek jera jika memang terbukti bersalah.

            Hukum dan remisi yang tepat dan adil sudah semestinya diberikan kepada mesyarakat yang tersandung kausus hukum. Namun para penegak hukum pun sudah kewajibannya untuk tidak sabjektif dalam memberikan hukum, harus tegas dan adil tidak memihak siapa-siapa. Karena hukum bukanlah barang yang bisa dijual belikan kepada siapa saja yang punya uang namun tidak pada orang yang tidak punya uang. Hukum yang tepat diberikan pula dengan cara yang tepat, kepada orang yang tepat dan dengan kebijakan yang tepat. Kebijakan hukum yang tepat adalah dengan memandang latar belakang dan kondisi psikologis masyarakat yang tersandung kasus hukum bukan memandang kepada pangkat dan jabatan masyarakat yang tersandung kasus hukum.

            Indonesia masih haus akan keadilan. Indonesia hari ini sangat membutuhkan malaikat yang siap memihak, menolong dan memperjuangkan hak-hak rakyat kecil. Banyak orang-orang pintar di negeri ini dan saya kira itu sudah cukup, yang dibutuhkan Indonesia sekarang adalah malaikat yang mempunyai sifat jujur dan mempunyai integritas tinggi dalam mengemban amant juga berlaku adil dan tidak sabjektif dalam memberikan hukuman kapada para tersangka, terlebih-lebih kepada para koruptor yang telah menjajah Indonesia di era kemerdekaan ini. Indonesia masih terpuruk karena terjajah oleh kelakuan para koruptor. Maling-maling kelas kakap di negeri ini tidak sepantasnya mendapat remisi atau keringanan masa tahanan. Hendaknya penegak hukum lebih tegas dan serius menangani para benalu yang menggerogoti negeri sendiri (koruptor).

            Kini keadilan seakan hanya sebatas mimpi saja bagi masyarakat kecil. Masyarakat selalu diberi harapan-harapan kosong. Keadilan menjadi barang yang amat mahal bagi masyarakat kecil namun tidak bagi orang yang berpangkat dan mempunyai kedudukan jabatan. Hukum dan keadilan seakan tidak hidup berdampingan lagi di negeri ini. Keadilan sudah semestinya menjadi hak bagi setiap individu masyarakat namun keadilan juga harus berdasarkan kebijakan-kebijakan yang tepat, tidak serta merta hukum di sama ratakan dengan tidak memandang kondisi masyarakat baik dari segi latar belakang maupun psikologis.

            Faktanya, pada awal tahun 2012 seorang kakek berusia 66 tahun bernama Rawi asal Sulawesi Selatan, terancam dihukum 5 tahun penjara hanya didakwa mencuri segenggam merica. Dan banyak lagi kasus-kasus lainnya yang dari rakyat kecil. Bukankah ini termasuk diskrimatif kepada rakyat kecil nan jelata? Tentu, seperti itulah fakta hukum di negeri ini, mendiskriminasi rakyat kecil. Rakyat kecil jadi menyimpulkan bahwa hukum di negeri ini “tajam ke bawah, tumpul ke atas,” karena keadilan menjadi hal yang langka bagi mereka yang susah dicari ke mana-mana, bahkan bisa jadi susah ditemukan.

Cirebon, 19 Maret 2015
Oleh: Achmad Irfa’i

Minggu, 04 Januari 2015

FAKTA MEMBACA



إقرأ بسم ربك الذي خلق
       
1.      bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Sekilas, mari kita pahami potongan ayat di atas dari lafadnya. Iqro yang berarti bacalah, kita lihat bawha kalimat iqro dalam bahasa arab merupakan kalimat fi’il (kata kerja/verb) yang berupa amar (kata perintah), kita tahu kalo ayat ini adalah perintah bagi kita untuk membaca,
Dalam bahasa arab “iqro” adalah fi’il amar yang asalnya ”qaro’a” (membaca/reading) dalam segi lafad, “qoro’a adalah fi’il muta’adi (transitive verb) or fi’il yang membutuhkan maf’ul (object) dimana ketika fi’il itu diucapkan, akan terjadi kekurang pahaman bahkan asalah paham because fi’il (kata kerja/verb) tersebut ga berpelengkap. Contoh: “makanlah!” maka akan timbul pertanyaan dalam benak kita, “apa yang dimakan?”. Yap! kurang lebih seperti itulah fi’il muta’adi.
Intinya, lafad “iqro” adalah fi’il muta’adi (intransitive verb). Di sini, timbul pertanyaan, kalo “iqro” itu fi’il muta’adi yang membutuhkan maf’ul (object), lantas dalam ayat tersebut, di mana maaf’ul (object)-nya? Eeits! jangan salah paham or berfikiran kalo Al Qur’an itu kurang bener tata bahasanya. Well! Dari pada antum salah paham dan penasaran, lebih baik kita bahas bareng-bareng permasalahan ini.
Dalam ilmu balaghah (sastra bahas arab) membuang salah satu kalimat dalam jumlah disebut “ijaz”, yang menandakan jumlah tersebut sangat luas maknanya. So, kalo ditafsirkan kurang lebih sperti ini:
بالمكتوب او بغير المكتوب) بسم ربك الذي خلق )إقرأ 
"bacalah (yang tertulis ataupun tidak tertulis) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”
Setelah lafad “iqro” kemudian dilanjut dengan lafad “bismi robbika”, kita menganalisa kembali dari bentuk lafad yang kedua, yaitu “bismi robbika”. Dalam ilmu Nahwu huruf “ba” yang ada dalam lafad “bismi” adalah huruf jer yang mempunyai beberapa makna, dan jika dilihat dari runtutan kalimatnya dapat ditarik salah satu makna dalam huruf “ba” tersebut, yaitu ba isti’anah, ba yang digunakan dalam kalimat untuk meminta pertolongan. Selain itu juga huruf jer selalu berhubungan dengan lafad sebelumnya atau yang biasa disebut dalam ilmu nahwu (ilmu tata bahasa Arab) mu’alaq dan ta’aluq (lafad yang saling berhubungan/bergantung) dimana lafad “iqro” sangat erat hubungan atau bergantung dengan lafad bismi. Allah A’lam.
kita sudah paham struktur kalimat pada ayat di atas. So! Kita dapat mengambil maksud dari ayat tersebut; bahwa Allah SWT memrintahkan hambaNya untuk terus membaca. Dalam Qaedah fiqih disebutkan “perintah menenjukan bahwa hal itu wajib”. So, kalo kita erat pegang qaedah ini, kesimpulannya bahwa, membaca itu hukumnya wajib. Wah! Berapa banyak dari kita yang kurang gemar membaca. May be! Kita dosa donk ga melaksanakan perintah Allah yang satu ini, yaitu membaca.
Bagi saya pribadi ayat tersebut adalah anjuran buat kita semua, anjuran tersebut pakai kalimat perintah, tujuannya agar membaca itu ga dianggap sepele. Agar membaca itu dijadikan sebagai kebutuhan. Allah menurunkan ayat ini sebagai wahyu pertama kali turun bukan tanpa excuse or alasan. Bahkan Nabi pun dipaksa untuk membaca sampai berkali-kali oleh malaikat Jibril. Dikatakan dalam kitab “Jawahir Al Bukhori” karya syeh Mushtofa Muhammad Imaroh, hadist Rasulullah tentang asbabun nuzul ayat diatas, diterangkan bahwa, ketika Rasulullah beruzlah di gua Hiro untuk bermunajat pada Allah, malaikat Jibril turun dan menghampiri Rasulullah menyuruh untuk membaca sampai tiga kali Rasulullah hanya menjawab “aku tidak bisa membaca”. At last! malaikat Jibril membacakan ayat di atas pada Rasulullah.
Peristiwa asbabun nuzul di atas menandakan, betapa penting dan besar manfaat  dari membaca sampai-sampai malaikat Jibril memaksa Rasulullah berkali-kali untuk membaca.
Di dalam membaca akan banyak menfaat yang kita petik. Akan banyak pengetahuan yang kita dapat dan akan banyak perubahan dalam diri kita, bahkan membaca itu dapat membantu perubahan nasib kita – masa sih? Nothing’s imphossible. Intinya, bacalah! – Dr. Ibraahim Elfiky sang maestro motivator muslim dunia yang karyanya paling terkenal berjudul “terapi berfikir positif”, mengatakan bahwa: apa yang Anda lihat, Anda dengar dan Anda baca akan menentukan nasib Anda. Dan beliau juga berkata “take time to read, it’s the foundation of wisdom”, gunakan waktu untuk membaca karena membaca adalah dasar kebijaksanaan”.
Perintah membaca pada ayat tersebut sudah kita tela’ah bersama dari struktur kalimatnya or tarkibannya (istilah santri dalam membaca kitab kuning) bahwa perintah membaca tersebut mempunyai makna yang sangat luas.perintah membaca dalam ayat tersebut sangatlah relative. So, ga terbatas hanya teks (bil maktub) saja tapi juga kontekstual (bi ghoeril maktub) juga.
Membaca teks pun ga terbatas hanya buku-buku pelajaran atau mata kuliah saja, tapi bisa saja buku-buku yang lainnya yang berisi pengetahuan, motivasi dan inspirasi. Buku-buku tersebut sangat membantu pengetahuan dan juga perubahan dalam hidup kita. Jika kita ingin memiliki pengetahuan akademik, bacalah buku tentang pengetahuan or pendidikan. Jika kita ingin mendapat inspirasi, dan energy semangat untuk mewujudkan impian or ingin sukses, bacalah buku-buku tentang motivasi, di situ bakal banyak pelajaran hidup yang sangat berharga dan bisa menginspirasi kita dan lain sebagainya. Jika kita ingin mendaptakan semuanya; pengetahuan, pendidikan, motivasi dan inspirasi, bacalah kitab yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu, Al Qur’an, bahkan kita bakal mendapatkan yang lebih dari itu, seperti; ketenangan jiwa, penyejuk jiwa, ilmu pengetahuan dan so pasti pahala, because setiap satu huruf dari Al Qur’an dikasih pahala sepuluh – kalo kita minimal baca surat Al Fatihah, kalo dikalkulasikan berapa banyak pahala yang kita dapat? So amazing, kan!? – bahkan yang lebih amazing lagi kitab kita ini up to date sepaanjang zaman, keasliannya dijamin 100% bahkan 1000%.
Koran, majalah dan lain sebagainya pun perlu kita baca, buat menunjang pengetahuan supaya kita up date terus tentang peristiwa dan fenomena yang terjadi di belahan bumi ini khususnya di Negara kita.
Intinya kita kudu sering up date pengetahuan lewat membaca. Dengan begitu kita bakal menjadi makhluk yang berpengetahuan meski tingkat pendidikan kita rendah (bersyukurlah yang pelajar dan mahasiswa) but itu ga jadi problem bagi kiat, toh belajar kan ga harus di bangku sekolah or kuliah istilahnya beyond school, gitu!. Belajar ga terikat ruang dan waktu. Kita mungkin kenal sepupu Rasulullah. Yap! Abdullah bin Abbas, beliau mendatangi dari pintu ke pintu istilahnya door to door ke rumah-rumah sahabat untuk belajar suatu hadits yang di sampaikan Rasulullah. Beliau pun amat dekat dengan Rasulullah tujuannya agar beliau mendapat ilmu dari Rasulullah. Maka Rasulullah pun mendoakan beliau “Ya Allah! Jadikanlah pemuda ini seorang yang pandai dalam urusan agama dan tafsir”. At last! Beliau menjadi ahli tafsir di kalangan sahabat Rasulullah. Beliau belajar ga di majlis-majlis saja tapi door to door ke rumah-rumah sahabt
Ilmuwan modern, kita kenal Albert Einstien manusia yang jenuis, teorinya yang sangat terkenal tentang “relativitas”. Semasa sekolah beliau sering bolos demi mendapat banyak waktu untuk membaca dan meneliti. Beliau mendapat banyak pengetahuan dan menjadi ilmuwan bukan dari bangku sekolah saja tapi dari membaca dan meneliti. Yap! Itulah contoh kecil orang-orang yang belajar beyond school (ga belajar di bangku sekolah).

KEMAAJUAN KARENA MEMBACA
Yuk! Kita intip Negara-negara maju karena budaya membaca, saya mengutip dari buku “keajaiban belajar” yang ditulis oleh Yunsirno penemu metode “kampoeng jenius” beliau juga memiliki segudang pengetahuan melalui berbagai buku yang beliau baca.
Kita mulai dari Negara Amerika, orang-orang Amerika rata-rata menghabiskan 25 milyar dolar untuk membeli buku – kalo dikalkulasikan pakai Rupiah, berapa trilyun? Hitung aja sendiri! – Bahkan abad 21 di Amerika disebut era perbukuan. Lebih dari 100.000 judul buku diterbitkan setiap tahun. Situs Amazon.com menjadi salah satu situs terbesar dan tersukses karena menjual buku. Tercatat mereka menyediakan sekitar 3.000.000 judul buku.
Kita telusuri ke Negara jepang. Mereka adalah pembelajar terbaik. Jumlah toko buku di jepang teramat banyak, hampir ada di setiap kelurahan. Jumlahnya berbanding dengan toko buku di Amerika, padahal luas Amerika sekitar 26 kali luas negeri Jepang, dan penduduk Amerika pun hamper dua kali lipat penduduk jepang.
Jepang memiliki took buku raksasa seperti Konokunikaya, Taiseido dan Maruzen. Bahkan took buku Taiseidio yang terletak di Tokyo memiliki delapan lantai yang semuanya menjual buku dan selalu ramai seperti mall-mall.
Amerika dan jepang juga bangsa yang gemar membaca berita. Bahkan jika Koran terbesar adalah The New York Times yang beredar sekitar 1,5 juta eksemplar per hari, Koran-koran Jepang jauh dari pada itu. Koran terbesar mereka adalah Yhomiuri Shimbun terbit sekitar 14 juta eksemplar per hari. Sementara Koran Asahi terbit sekitar 12 juta eksemplar per hari. Sebuah angka yang fantastis, bukan sob?
Sekarang kita lihat tokoh-tokoh besar dari ilmuan Muslim dan non Muslim yang menjadi besar karena kegemarannya membaca dan terinspirasi dari buku-buku yang dibaca. Khalifah Bani Abbasiyah tersukses, Harun Ar-Rasyid adalah penggemar buku-buku karya filosof Yunani Plato dan Aristoteles, Si jenius Ibnu Sina saat berhasil menyembuhkan putrid Khalifah hanya minta satu hadiah: diizinkan membaca buku-buku di perpustakaan istana. Khalifah Al Makmun rela membayar buku dengan emas seberat buku itu bagi penterjemahnya.
Napoleon, penakluk benua Eropa pun adalah seorang gila buku, ia membaca buku-buku tentang Alexander Agung, Julius Caesar, Homer Plato bahkan ia pun membaca Al Qur’an.
Salah seorang terkaya di dunia pengusaha di perusahaan Microsoft, Bill Gates menghabiskan buku-buku computer di perpustakaan sekolahnya hanya dalam waktu beberapa bulan.
Dan jika semua Nabi memiliki mukjizat sesuai zamannya, uniknya Nabi terahi, Muhammad adalah sebuah buku yang bernama Al Qur’an ayat pertamanya menyuruh umatnya untuk membaca “iqro” (bacalah!).
Demikianlah, alasan Allah menurunkan ayat yang berbunyi “iqro” sebagai wahyu yang pertama kali turun. Dampaknya saangat besar untuk perkembangan dan perubahan kita. So, reading is everything but  raeding is nothing without applying

MEMBACA KONTEKSTUAL (Iqro Bi Ghoiril Maktub)
Setelah kita bahas tentang membaca secara tekstual, yaitu: membaca hal-hal yang berupa tulisan. Kita lanjutkan, membahas tentang membaca kontekstual (iqro bi ghoiril maktub).
Membaca kontekstual dalam ilmu fiqih disebut istiqro yaitu metode yang digunakan para fuqoha dalam menganalisa suatu permasalahan yang tidak ada dalil secara teks/nash untuk mengambil suatu kesimpulan yang kemudian dijadikan hukum, inilah yang disebut dalil istiqro (penelitian) dalam fiqih.
Istiqro dalam kamus Munawir berarti meneliti. Istiqro adalah masdar dari fi’il madi (kata kerja lampau/past tense) istaqro’a, yang berasal dari bentuk lafad qoro’a yang berarti membaca, dengan ditambah tiga huruf yaitu: hamzah, sin dan ta yang berada diawal huruf pokok.
Istiqro juga sering dipakai oleh filosof dalam menganalisa dan menganalogikan suatu permasalahan berdasarkan realita. Di sinilah yang dimaksud membaca kontekstual. Membaca alam sekitar dengan memahami ayat-ayat Allah yang tidak tertulis.
Banyak ilmuwan dan penemu baik dari kalangan muslim ataupun non muslim yang menjadikan natijaah or kesimpulan dari metode istiqro sebagai suatu bidang ilmu dan penemuan. Di bidang ilmu matematika dari ilmuwan muslim kitaa kenaal dengan Al Khawarizmi, beliau adalah pencetus angka nol (kebayang kan? Kalo ga ada jasa beliau mungkin kita bakal gaa tahu mana uang seratus sampai satu juta). Di bidang ilmu filsafat, kita kenal dengan Aristoteles dan Plato. Di bidang ilmu kedokteraan kitaa kenal dengan Ibnu Sina seorang ilmuwan muslim. Di bidang penemuan kita kenal Thomas Alfa Edison seorang penemu lampu bohlam dengan penelitian dan percobaannya dikatakan sampai 999 kali percobaan yang gagal. Demikianlah contoh kecil ilmuwan dan penemu yang membaca ayat-ayat Allah yang ga tertulis sehingga menjadi ilmu pengetahuan dan penemuan yang bisa kita rasakan saampai sekarang ini. Masih banyak lagi contoh yang lainnya.
Intinya, membaca kontekstual adalah membaca ayat-ayat Allah yang ga tertulis. Bertafakur, memikirkan alam sekitar dengan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah yang tanpa batas, seperti; membaca fenomena alam dan lain sebagainya.


                                                                                                Brebes, 04 Januari 2015
                                                                                                Penulis

                                                                                                Ach. Irfa’i

Senin, 08 Desember 2014

air mata Abu Bakar di Penghujung Hayat Rasulullah



s

Semburat mega di ufuk barat mewarnai langit sore Arafah di hari jum’at, sekelompokan umat Islam mulai memadati tanah yang menjadi salah satu syarat sahnya hajji, mereka mulai membangun tenda-tenda penginapan dan mempersiapkan untuk bermunajat di penghujung sore. Sementara unta-unta yang menjadi kendaraan utama,  mereka ikat di tiang-tiang tenda.

Tampak dari jauh sinar wajah seseorang yang sedang menepuk-nepuk pundak untanya memberikan isyarat agar untanya merendahkan punggungnya, lalu beliau menyandarkan badannya di punggung unta, sinar wajah itu tak sedikitpun menampakkan rasa lelah meski selama beberapa hari beliau memimpin hajji umatnya dan ini ibadah haji penutup dari ibadah haji sebelumnya, hajji perpisahan. Ya beliaulah seorang yang menjadi panutan umat Islam, Rasulullah SAW.

Matahari tampak setengah lingkaran, sinar mulai menampakkan warna merah jingga. Rasulullah masih dalam posisi bersandar di bahu untanya, tiba-tiba Rasulullah tersentak kaget sekujur tubuhnya bergetar dikejutkan oleh makhluk Allah yang tidak pernah sedikitpun maksiat kepadaNya, Rasulullah bergegas bangkit dari punggung untanya beliau tampak bahagia akan mendaptkan risalah dari Allah. “Hai Muhammad! Telah sempurna urusan agamamu di hari ini dan telah ditetapkan semua yang diperintahkan oleh Tuhanmu dan semua yang dilarang Tuhanmu, maka kumpulkanlah sahabt-sahabatmu dan beritahulah pada mereka bahwa saya tidak akan lagi turun kepadamu setelah hari ini”. perintah Jibril kepada beliau.

Kemudian beliau bergegas dan menepuk pundak untanya memberikan isyarat untuk bangun. sejurus kemudian beliau mulai menaikinya dan bergegas menuju ke Madinah. Sesampainya di Madinah beliau bergegas mendatangi para sahabatnya dan memerintahkan agar semua sahabat yang lain yang berada jauh dari lingkungan rumah Rasulullah diperintahkan untuk kumpul.

Satu-persatu dan sekelompokan sahabat mulai berdatangan dan memadati lingkungan rumah Rasulullah, bagai jamaah hajji mereka berkumpul menjadi satu di pelataran rumah Nabi.  

Pandangan mata para sahabat mengikuti gerak langkah Nabi menuju mimbar sorot mata mereka di penuhi rasa cinta yang mendalam terhadap beliau dan rasa bahagia tak terbendung lagi setelah mereka tahu dari salah satu sahabat bahwa nabi akan menyampaikan wahyu.

Beliau telah di atas mimbar, semua kepala merunduk penuh hormat, mulut sahabt tertutup rapat. Semua menajamkan pendengaran dan menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkaian hikmah dari Nabi.

Nabi membacakan ayat yang telah di sampaikan oleh Allah melalui malaikat Jibril dan Nabi memberikan kabar bahwa telah sempurna urusan agamanya. Kebahagian para sahabat tak terbendung, Semua air mata bercucuran membasahi wajah-wajah mereka. Mereka bersorak gembira “agama kita telah sempurna, agama kita telah sempurna”. sekali-kali mereka serentak membacakan takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah sempurna agama kita, telah sempurna agama kita”. Gemuruh takbir dan rasa Syukur memecahkan kesunyian malam itu

Abu Bakar duduk termangu di tengah-tengah kebahagiaan umat Islam. Tatapannya kosong memndang kearah langit malam. Air mata hangat menetes membasahi kedua pipinya. Beliau tersedu-sedu di tengah gemuruh rasa syukur dan suara takbir umat Islam atas kabar gembira yang Rasul sampaikan.

Air matanya semakin tak tertahankan lagi. Beliau bernjak berdiri dari duduknya dengan sekujur tubuh lunglai dan langkah kaki yang gemetar menuju rumahnya. Sesampai di rumah beliau menutup rapat-rapat pintu dan langsung beranjak menuju kamar. Suara tangisny pecah menembus gelap malam kota madinah dan tak terhentikan sampai di penghujung waktu dhuha.

Tangisannya terdengar sampai ketelinga para sahabat. Mereka berbondong-bondong mendatangai rumah Abu Bakar “Hai Abu Bakar! Apa yang membuat kau menangis di saat-saat kebahagiaan seperti ini, bukankah Allah telah menyempurnakan agama kita?” Tanya salah seorang sahabat kepada beliau. Dengan kesedihan yang masih menyelimuti hati dan nada tersedu-sedu, beliau menjawab “Hai sahabat! Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kalian, apakah kalian tidak tahu? Jika suatu urusan telah sempurna maka akan terlihat kekurangannya. Ini adalah suatu pertanda dan kabar bagi kita, bahwa kita akan berpisah dengan Rasul di dunia, Hasan dan Husain akan menjadi anak yatim dan istri-istri beliau menjadi janda”. Sontak, air mata sahabat yang berada di sekeliling beliau menetes deras, tangisan para sahabat memecahkan kebahagiaan di hari itu. Ruang kamar beliau di penuhi tangisan para sahabat.

Salah seorang sahabat dengan hati diselimuti kesedihan beranjak keluar dari rumah Abu Bakar kaki yang lunglai memaksakan pergi menemui Rasulullah. Sejalan kemudian beliau bertemu Rasulullah dan menatap wajah beliau dengan sorot mata kesedihan dan mengadukan perihal yang terjadi pada para sahabat “Ya Rasulullah! Saya tidak tahu apa yang terjadi pada para sahabat, saya mendengar tangisan mereka dan jeritan mereka”. aduan salah sorang sahabat pada Rasulullah dengan suara tersedu-sedu. Mendengar hal itu, sinar wajah beliau berubah. Beliau berdiri dan bergegas mandatangi rumah Abu bakar.

Tangisan para sahabat masih menyelimuti ruang kamar Abu Bakar di tengah kehadiran sang pemimpin umat, “Apa yang membuat kalian menangis?” Tanya Rasulullah melihat mereka sedih. Ali Bin Abu Tholib R.A berdiri menghadap Rasulullah dengan sura tersedu-sedu menjawab “Abu Bakar mengatakan: saya mendengar kabar akan dekat wafatnya Rasulullah dari ayat ini. Apakah benar, ayat ini menunjukan akan dekat wafatnya engkau?” sahabt Ali balik bertnya kepada beliau. Dan Nabi menjawab “Ya benar, apa yang telah dikatakan Abu Bakar.  Telah dekat perpindahanku dari kalian dan telah tiba saatnya perpisahanku dengan kalian”. Sontak, tangisan Abu Bakar pun semakin keras hingga beliau tak sadarkan diri, disusul sahabat Ali R.A dan para sahabat yang lain, sekujur tubuh mereka bergetar dan tangisan pun tak terbendung lagi. Semuanya hanyut dalam tangisan mereka.

Dengan santun dan tenang meski di penuhi dengan kesedihan yang mendalam Nabi menyalami satu-persatu dari mereka dan berpamitan. Tetes air mata Nabi pun tak terbendung  bergaris membasahi kedua pipinya dan memberikan wasiat terakhir kepada mereka.

 

Dilansir dari kitab Durroh Annashihin, Karya Utsman Bin Hasan Bin Ahmad Assyakir Al-Khubawi