Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2017

NASAB KH. AHMAD DAHLAN DAN KH. HASYIM ASY'ARI



NASAB KH. HASYIM ASY’ARI
KH. Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang – salah satu desa di kabupaten Jombang – Jawa Timur—pada hari selasa kliwon, tangal 24 Dzulqa’dah 1287 H atau bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1871 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn Abd al-Wahid ibn Abd al-Halim yang mempunyai gelar Pangeran Bonga ibn Abd al-Rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir Sultan Hadi Wijaya Ibn Abd Allah ibn Abd al-Aziz ibn Abd al-Fatah ibn Maulana Ishaq dari Raden Ain al-Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri.[1]
Dari jalur ayah, nasab KH. Hasyim Asy’ari berujung pada Abu Syaiban yang berasal dari keturunan Arab yang berdakwah di Asia Selatan pada abad ke-4 H dan mendirikan kerajaan Islam yang dikenal dengan kesultanan Ahl’Azamamh Khan. Mereka adalah keturunan Imam Ja’far al-Shidiq ibn Imam Muhammad al-Baqir. Sementara itu, dari jalur ibu, KH. Hasyim Asy’ari berasal dari Raja Brawijaya VI, yang dikenal dengan Lembu Peteng, yang merupakan kakeknya yang kesembilan. Jalurnya, dari Lembu Peteng kemudian menurunkan Karebet atau Joko Tingkir yang berarti pemuda dari daerah Tingkir, desa yang terletak di Tenggara Salatiga.[2] 

NASAB KH. AHMAD DAHLAN
            KH. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1868 dan wafat pada tanggal 23 Februari 1923. KH. Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari KH. Abu Bakar[3]. Di masa kecil bernama Muhammad Darwis bin KH. Abu Bakar. Silsilah di atasnya adalah sebagai berikut: bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadlo bin Kyai Ilyas bin Demang Jurang Juru Kapindo bin Demang Jurang Juru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana Ainul Yaqien (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim Waliyullah.
            Dalam naskah tulisan tangan S. Alwi bin Tohir Al Hadad, Sunan Prapen memiliki silsilah sebagai berikut. Sunan Prapen wafat di Giri pada tahun 1101 H adalah putra Wali Kusumowiryo bin Maulana Muhammad Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Ibrahim (Ibrahim Asmoro, ayah Sunan Ampel Surabaya) bin Jamaludin Agung (Al-Akbar).
            Baik maulana Ibrahim maupun Maulana Ibrahim Asmoro adalah masih keturunan Imam Ahmad Al-Muhajir melalui Jamalidin Agung Al-Husain. Dengan demikian, KH. Ahmad Dahlan adalah keturunan Rasulullah SAW melalui Muhajir Ahmad bin Isa. Berarti beliau seketurunan dengan Sunan Gunungjati.[4]

KESIMPULAN
            KH. Ahmad Dahlan 3 tahun lebih tua dari KH. Hasyim Asy’ari. Dari nasab keduanya jelas bahwa KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari masih dalam satu  keturunan atau satu nasab, nasab keduanya bertemu pada Ainul Yaqin yang terkenal dengan sebutan Sunan Giri. Bisa dipastikan keduanya sama-sama keturunan Rasulullah SAW atau Sayyid/Habib.
            Dari jalur ibu, KH. Hasyim Asy’ari adalah keturunan Raja Brawijaya IV, yaitu kakek ke-9 beliau.

Oleh: Irfa’i     
Cirebon, 08 Maret 2017

                                   
Sumber:


[1] Asy’ari, (tt). Adabul Alim walmuta’alim. Maktabah Al-Turats Al-Islamy Pesantren Tebuireng Jombang. Hal 5
[2] Anshoriy Nasruddin, HM. Hendranto Agus, 2015, HOS Tjokroaminoto Pelopor Perjuangan, Guru Bangsa dan Penggerak Sarekat Islam. Ilmu Giri Yogyakarta. Hal. 177
[3] Anshoriy Nasruddin, HM. Hendranto Agus, 2015, HOS Tjokroaminoto Pelopor Perjuangan, Guru Bangsa dan Penggerak Sarekat Islam. Ilmu Giri Yogyakarta. Hal. 137
[4] Mansur Suryanegara, Ahmad, 2012, Api Sejarah Jilid I. Salamadani, PT. Grafindo Media Pratama. Hal. 438.

Senin, 06 Maret 2017

Berdirinya Organisasi Nahdhatul Ulama (NU)




Nahdhatul Ulama (NU) didirikan pada taggal 16 Rajab 1344 H. (31 Januari 1926) di Surabaya. Pembangunnya ialah alim ulama dari tiap-tiap daerah di Jawa timur. Di antaranya:
1)   KH. Hasyim Asy’ari, Tebuireng.
2)   KH. Abdul Wahab Hasbullah, Tebuireng.
3)   KH. Bisri, Jombang.
4)   KH. Ridwan, Semarang.
5)   KH. Nawawi, Pasuruan.
6)   KH. R.Asnawi, Kudus.
7)   KH. R.Hambali, Kudus.
8)   K. Nakhrawi, Malang
9)   KH. Doromunthaha, Bangkalan.
10)    KH.M.Alwi Abdul Aziz.
11)    Dan lain-lain.
Latar belakang didirikannya organisasi ini semula adalah sebagai perluasan dari Komite Hijaz yang dibangun dengan dua tujuan,
1.      Untuk mengimbangi komite Khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ketangan golongan pembaharuan.
2.      Untuk berseru kepada Ibnu Sa’ud, agar kebiasaan beragama secara radisi bias diteruskan.
Choirunniswah menuturkan dalam jurnal Ta’dib Vo. XVII (2013: 76) dalam pertemuan tersebut diambil dua keputusan paling penting yaitu:
1.      Meresmikan  dan  mengukuhkan  berdirinya  Komite  Hijaz serta  mengirimkan  utusan  ke  Mekkah  atas  nama  Ulama Indonesia  untuk  menghadiri  Kongres  Dunia  Islam  di Mekkah,  dengan  tugas  memperjuangkan  hukum-hukum ibadat dalam mazhab empat.
2.      Membentuk  Jam’iyah  untuk  wadah  persatuan  para  ulama
dalam  tugasnya memimpin  umat menuju  terciptanya  Izzul Islam  wal  Muslimin.  Atas  usul  dari  Alwi  Abdul  Aziz, Jam’iyah  ini  diberi  nama  “Nahdlatul Ulama” yang  artinya
“Kebangkitan para Ulama” [1]
Adapun azas dan tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama yaitu :
“Azas  NU  yakini  memegang  dengan  teguh  pada  salah  satu dari mazhabnya Imam empat, yaitu Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i,  Imam  Malik  bin  Anas,  Imam  Abu  Hanifah  an-Nu’man  atau  Imam  Ahmad  bin  Hambal.  Tujuannya  yakni mengerjakan  apa  saja  yang  menjadi  kemaslahatan  agama Islam (Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama, pasal 2, 1926)”.
Orang Islam di Indonesia terarik pada masalah khilafat ini semenjak perang dunia I berakhir. Daulat Usmaniyah guncang sedangkan kekuasaan Sultan Turki yang juga dipandang sebagai khalifah, termasuk kaum muslimin di Indonesia, diperebutkan oleh nasionalis Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Dalam tahun 1922 Majelis Raya Turki menghapuskan kekuasaan sultan dengan menjadikan negeri itu satu republik, tetapi pada tahun itu majelis tersebut menjadikan Abdul Majid Khilafat tanpa kekuasaan duniawi. Dua tahun kemudian majelis itu menghapuskan khilafat sama sekali.
Perkembangan ini menimbulkan kebingungan pada dunia Islam pada umumnya, yang mulai berpikir tentang pembentukan suatu khilafat baru. Masyarakat Islam Indonesia bukan saja berminat dalam masalah ini, malah merasa berkewajiban memperbincangkan dan mencari penyelesaiannya. Kebetulan Mesir bermaksud mengadakan kongres tentang khalifah pada bulan Maret 1924, dan sebagai sambutan atas maksud ini suatu Komite Khilafat didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari Sarekat Islam (SI) dan wakil ketua KH Wahab Hasubllah. Kongres Al-Islam ketiga di Surabaya bulan Desember 1924 antara lain memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke kongres Kairo, terdiri dari Surjopranoto (Sarikat Islam), Hadji Fahrudin (Muhammadiyah) serta KH. Wahab Hasbullah dari kalangan tradisi.
Tetapi kongres di Kairo itu ditunda, sedangkan minat orang-orang Islam di Jawa tertarik lagi pada perkembangan di Hijaz di mana Ibnu Sa’ud berhasil mengusir Syarif Husain dari Mekah tahun 1924. Segera setelah kemenangan ini pemimpin Wahabi itu mulai melakukan pembersihan dalam kebiasaan praktek beragama sesuai dengan ajarannya, walau pun ia tidak melarang pelajran madzhab di Masjid Al-Haram. Tindakan ini sebagian mendapat sambutan baik di Indonesia, tetapi sebagian juga ditolak. Tetapi dengan kemenangan Ibnu Sa’ud ini, baik Mekah maupun Kairo berrebut kedudukan Khalifah.
Suatu undangan dari Ibnu Sa’ud kepada kaum Islam di Indonesia untuk menhadiri kongres di Mekah dibicarakan di kongres Al-Islam kelima di Bandung (6 Februari 1924). Kedua kongres ini kelihatannya didominasi oleh golongan pembaharu Islam. Malah sebelum kongres di Bandung suatu rapat antara organisasi-organisasi pembaharuan di Cianjur Jawa Barat (8-10 Januari 1926) telah memutuskan untuk Tjokroaminoto dari Sarikat Islam (SI) dan KH Mas Mansur dari Muhammadiyah ke Mekah untuk mengikuti kongres. Pada kongres di Bandung yang memperkuat keputusan rapat di Cianjur. KH. Abdul Wahab Hasbullah atas nama kalangan tradisi mengajukan usul-usul agar kebiasaan-kebiasaan agama seperti membangun kuburan, membaca doa seperti Dala’il al-Khairat, ajaran madzhab, dihormati oleh negeri Arab yang baru dalam negaranya, termasuk di Mekah dan Madinah.
Kongres di Bandung itu tidak menyambut baik usul-usul ini, sehingga KH. Wahab Hasbullah dan tiga orang penyokongnya keluar dari komite Khilafat tersebut di atas, KH. Wahab Hasbullah kemudian mengambil inisiatif untuk mengadakan rapat-rapat kalangan ulama kaum tua, mulanya ulama dari Surabaya, kemudian juga dari Semarang, Pasuruan, Lasem dan pati. Mereka bersepakat untuk mendirikan suatu panitia yang disebut Komite Merembuk Hijaz. Komite inilah yang diubah menjadi Nahdhatul Ulama pada suatu rapat di Surabaya tanggal 31 Januari 1926 M.[2]
Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) yang dibangun pada 31 Januari 1926 M, Ahad Pon, 16 Rajab 1344 H, di Surabaya, menghasilkan keputusan KH. Hasyim Asy’ari sebagai Ra’is Akbar organisasi ini.[3]
Untuk melegalisasikan gerak juangnya maka atas usul KH. Said Saleh pada 5 September 1929 M, keluarlah Surat Keputusan Gubernur Jendral yang mengesahkan hadirnya Nahdhatul Ulama di Surabaya pada 6 Februari 1930. Dari surat keputusan inilah, sebagian penulis, misalnya Mr. Iwan Kusuma Sumantri menuliskan hari lahir Nahdhatul Ulama pada 6 Februari 1930 M.
Kelahiran NU diawali dengan berdirinya kelompok “kebangkitan para pedagang” (Nahdhatut Tujjar) pada 1918 M, yang muncul sebagai lembaga gerakan ekonomi pedesaan; disusul dengan berdirinya “kelompok diskusi” (Tashwirul Afkar) 1922 M, sebagai gerakan keilmuan dan kebudayaan; dan diikuti munculnya perkumpulan “kebangkitan rasa kebangsaan” (Nahdhatul Wathan) yang merupakan gerakan politik lewat pendidikan.[4]
Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, tidak hanya kyai (sebagai individu) saja yang ikut dalam peperangan revolusioner ini. NU pun ikut ambil bagian yang menentukan dalam perjuangan di Jawa Timur. Pada 21 dan 22 Oktober 1945, wakil-wakil cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya dan menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (perang suci). Deklarasi ini, yang kemudian terkenal dengan “Resolusi Jihad”, tidak mendapat perhatian yang selayaknya dari para sejarawan. Tanggal terbit maupun ungkapan kalimatnya menunjukkan bahwa NU mampu menampilkan diri sebagai kekuatan radikal yang tak disangka-sangka.
Tidak dapat diingkari, “Resolusi Jihad” berdampak besar di Jawa Timur. Pasukan-pasukan nonreguler yang bernama Sabilillah rupanya dibentuk sebagai respon langsung atas resolusi ini, yang namanya langsung merujuk pada “perang suci”. Pada 10 November 1945, dua minggu setelah kedatangan pasukan Inggris di Surabaya, sebuah pemberontakan massal pecah, di mana banyak pengikut NU yang terlibat aktif. Banyak di antara pejuang muda yang mengenakan jimat yang diberi kiyai desa kepada mereka. Bung Tomo, yang menggerakkan massa ke dalam perjuangan melalui pidato radionya, mungkin tidak  pernah menjadi santri, tetapi diketahui meminta nasihat kepada KH. Hasyim Asy’ari Danar .[5]




[1] Zuhri, A. M. (2010). Pemikirikan KH. M. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl-as-Sunnah wa al-Jama'ah. Surabaya: Khalista.

[2] Zuhairini, Dkk, 2010, Sejarah Pendidikan Islam, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
[3] Mansur Suryanegara, Ahmad, 2012, Api Sejarah Jilid II. Salamadani, PT. Grafindo Media Pratama.

[4] Maschan Moesa, Ali, 2007, Nasionalisme Kiai Konstruksi Sosial Berbasis Agama,PT. LKiS Pelangi Aksara.
[5] Widiyanata, D. (2013, Mei 1). Wujud Nasionalisme Tokoh Tradisionalis dan Modernis.

Minggu, 26 Februari 2017

BIOGRAFI KH. HASYIM ASY’ARI

https://www.hidayatullah.com/files/bfi_thumb/HasyimAsyari1-2xoca7tahvmpuftrnkpt6o.jpg 



Latar Belakang Keluarga KH. Hasyim Asy’ari
Perkawinan antara Kyai Asy’ari dan Halimah diberkahi Tuhan. Perkawinan ini melahirkan beberapa orang keturunan, yang kemudian di dalam masyarakat agama memperoleh kedudukan yang penting-penting.
Seorang di antara anak-anak itu ialah yang dinamakan Muhammad Hasyim, yang kemudian menjadi Kyai besar  dan dikenal orang dengan nama KH. Hasyim Asy’ari.[1]
KH. Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang – salah satu desa di kabupaten Jombang – Jawa Timur—pada hari selasa kliwon, tangal 24 Dzulqa’dah 1287 H atau bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1871 M. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn Abd al-Wahid ibn Abd al-Halim yang mempunyai gelar Pangeran Bonga ibn Abd al-Rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir Sultan Hadi Wijaya Ibn Abd Allah ibn Abd al-Aziz ibn Abd al-Fatah ibn Maulana Ishaq dari Raden Ain al-Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri.
Dari jalur ayah, nasab KH. Hasyim Asy’ari berujung pada Abu Syaiban yang berasal dari keturunan Arab yang berdakwah di Asia Selatan pada abad ke-4 H dan mendirikan kerajaan Islam yang dikenal dengan kesultanan Ahl’Azamamh Khan. Mereka adalah keturunan Imam Ja’far al-Shidiq ibn Imam Muhammad al-Baqir. Sementara itu, dari jalur ibu, KH. Hasyim Asy’ari berasal dari Raja Brawijaya VI, yang dikenal dengan Lembu Peteng, yang merupakan kakeknya yang kesembilan. Jalurnya, dari Lembu Peteng kemudian menurunkan Karebet atau Joko Tingkir yang berarti pemuda dari daerah Tingkir, desa yang terletak di Tenggara Salatiga.[2]
KH. Hasyim Asy’ari adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara, yaitu, Nafi’ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hasan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, dan Adnan. Sampai umur lima tahun beliau dalam asuhan orang tua dan kakenya di pesatren Gedang.[3]
Secara geneologis, KH. hasyim Asy`ari merupakan keturunan ke delapan penguasa Kerajaan Islam Demak, Sultan Pajang yang terkenal dengan julukan Jaka Tingkir (Mas Karebet), anak Raden Brawijaya VI. Versi lain menyebutkan bahwa garis keturunan Jaka Tingkir berasal dari silsilah ibu Hasyim, Winih (Halimah) yang merupakan keturunan ketujuh. Bahkan dari keturunan garis ayah pula, silsilah Hasyim Asy`ari dapat dirunut dari keluarga Syaiban berasal dari keturunan para da’i Arab muslim yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama Islam pada abad ke-4 H serta mendirikan pusat pendidikan agama Islam. Keluarga Syaiban adalah keturunan Imam Ja‘far al-Shâdiq bin Imam Muhammad Baqir. Versi lain menyebut garis keturunan Hasyim Asy`ari dari silsilah Sunan Giri, salah satu Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke-16.[4]

Riwayat Hidup KH. Hasyim Asy’ari
Menginjak tahun 1876, ia diajak pindah ayahnya ke pesantren Keras, pesantren yang dibangun oleh ayahnya sendiri. Di pesantren ini Hasyim kecil menerima pelajaran dasar-dasar keagamaan yang diberikan ayahnya sendiri. Kiai Asy’ari. Kecermelangan otaknya mulai tampak ketika usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar sanri-santri yang lebih besar darinya.
Menurut H. Aboebakar KH. Hasyim Asy’ari hidup bersama dua orang neneknya selama 5 tahun. Pada waktu ia sudah berumur 6 tahun, ia berpisah dengan mereka itu, karena ia pindah dengan ayah-bundanya ke salah satu tempat di sebelah selatan Kota Jombang, Desa Keras namanya. Kejadian berlaku pada tahun 1292 H/1876 M.
Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri yang mendidiknya dengan membaca al-Qur’an dan literatur-literatur lainnya. Sejak kecil ia sudah dikenal dengan kegemarannya membaca. Jenjang pendidikan selanjutnya ditempuh di berbagai pesantren. Pada awalnya ia menjadi santri di pesantren Wonokoyo di Probolinggo, kemudian berpindah di pesantren Langitan. Tuban. Dari Langitan santri yang cerdas tersebut berpindah ke Bangkalan, di sebuah pesantren yang diasuh oeh Kyai Kholil. Terakhir –sebelum belajar ke Mekah—ia sempat nyantri di pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo. Pada pesantren yang terakhir inilah ia diambil menantu oleh Kyai Ya’Qub, pengasuh pesantren tersebut dengan putrinya Khadijah.[5]
Setelah menikah, yaitu pada 1891 ketika ia berumur 21, KH. Hasyim Asy’ari dan istrinya menunaikan ibadah haji ke Mekah atas biaya mertuanya  mereka tinggal di Mekah selama 7 bulan. KH. Hasyim Asy’ari harus pulang ke Tanah Air sendiri karena istrinya meninggal setelah melahirkan seorang anak yang bernama Abdullah. Perjalanan ini sangat mengharukan karena sang anak juga meninggal dalam umur 2 bulan.[6]
Pada tahun 1893 M, setelah beberapa saat di Tanah Air, Hasyim kembali ke Tanah Suci bersama Anis, adik kandunya, yang akhirnya juga meninggal di sana. Pada kesempatan ini, ia tinggal di Mekah selama 7 tahun[7]. Di Tanah Suci itu Hasyim mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk belajar berbagai di siplin ilmu. Hasilnya, hingga pada tahun 1896, ia telah mampu mengajar di sana.
KH. Hasyim Asy’ari menikah tujuh kali selama hidupnya; semua istrinya adalah anak Kyai. Dengan demikian, dia terus memelihara hubungan antarberbagai lembaga pesantren. Istri pertama KH. Hasyim Asy’ari, Khadijah, merupakan putri Kyai Ya’qub dari pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo); istri keduanya, Nafisah yang dinikahi setelah istri pertama meninggal dunia, adalah puri Kyai Romli dari Kemuring (Kediri); istri keempat Masrurah, putri saudara kyai Ilyas, pemimpin pesntren Kapurejo (Kediri).
KH. Hasyim Asy’ari mengajar anak-anak beliau dasar-dasar ilmu agama Islam dan kemudian mengirimkan mereka ke pesantren lain dengan harapan akan mendapat pengalaman pesantren seperti beliau. Harapa ini paling tidak terlaksana pada anak perempuannya, Nyai Khairiyah yang kemudian mendirikan pesantren sendiri, pesantren Seblak. KH. Hasyim Asy’ari mendorong anak-anak putrinya dengan para Kyai yang mengajar di Tebuireng dan anak-anak lelakinya menikah dengan putri-putri Kyai sehingga ikut melesarikan tradisi moyang mereka. Selain hal yang dicapai Nyai Khairiyah keturunan KH. Hasyim Asy’ari yang lain kemudian menjadi pimpinan-pimpian pesantren Tebuireng sekaligus aktif dalam kegiatan politik tingkat nasional. Seperti Abdul Wahid Hasyim (w. 1953) merupaka salah seorang perumus Piagam Jakarta dan kemudian menjabat sebagai Menteri Agama. Hal serupa juga terjadi kepada anaknya yang paling kecil, Yusuf Hasyim, yang aktif di militer dan politik tingkat nasional sebelum sekarang menjalankan roda kepemimpinan pesantren Tebuireng.
Zamakhsyari menyebut KH. Hasyim Asy’ari sebagai “Kyai paling besar dan terkenal seluruh Indonesia selama paruh pertama abad ke-20”. James Fox, seorang antropolog dari Australia National Univesity (ANU), menganggapnya seorang wali. Dia menggambarkan KH. Hasyim Asy’ari sebagai berikut:
“…jika Kyai pandai masih dianggap sebagai wali, ada satu figure dalam sejarah Jawa kini yang dapat menjadi kandidat utama untuk peran wali. Ini adalah ulama besar, Hadratus Syaikh – Kiai Hasyim Asy’ari…memiliki ilmu dan pandangan sebagai sumber berkah bagi mereka yang mengetahuinya, Hasyim Asy’ari selama hidupnya menadi pusat pertalian yang menghubungkan para kiai utama seluruh Jawa. Kiai Hasyim juga dianggap memiliki keistimewaan luar biasa. Menurut garis keturunannya, tidak saja berasal dari garis keturunan ulama pandai, dia juga keturunan Prabu Brawijaya.”
KH. Hasyim Asy’ari meninggal pada tanggal 7 Ramadhan 1366/25 Juli 1947 karena tekanan darah tinggi. Hal ini terjadi setelah ia mendegar berita dari Jendral Sudirman dan Bung Tomo, bahwa pasuka Belanda di bawah Jendral Spoor telah kembali ke Indonesia dan menang dalam pertempuran di Singosari (Malang) dengan meminta korban yang banyak dari rakyat biasa. KH. Hasyim Asy’ari sangat terkejut dengan peristiwa ini sehingga terkena serangan stroke.[8]
Menjelang subuh hari ke-7 Ramadhan KH. Hasyim Asy’ari berpulang ke Rahmatullah. Menurut dokter, KH. Hasyim Asy’ari terkena serangan hersembloending (pendarahan otak) secara tiba-tiba. Guna mengenang jasa-jasa almarhum, pemerintah Idonesia menganugerahinya penghargaan sebagai pahlawan kemerdekaan berdasarkan Keputusan Presiden No. 294/1964.[9]
Ahmad Mansur Suryanegara menuturkan, KH. Hasyim Asy’ari meninggal pada dini hari pukul 03.45, tepat 4/5 Ramadhan 1366 H, Rabu Legi/Kamis Pahing 24/25 Juli 1947 M dalam usia 70 tahun.
Sebelumnya, beliau masih mampu mengimami shalat Isya dan Tarawih serta menerima tamu. Namun waktu sahur, pukul 03.45 dini hari KH. Hasyim Asy’ari wafat.
KH. Hasyim Asy’ari sebagai pembangkit semangat Resolusi Jihad Nahdhatul Ulama (NU), 22 Oktober 1945 H – yang diperingati sebagai hari santri nasional – Senin Pahing, 15 Dzulqaidah 1364 H, dalam menghadapi pendaratan Tentara Sekutu Inggris dan NICA .[10]







[1] Aboebakar. 2011. Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasjid, PT. Mizan Pustaka.
[2] Anshoriy Nasruddin, HM. Hendranto Agus, 2015, HOS Tjokroaminoto Pelopor Perjuangan, Guru Bangsa dan Penggerak Sarekat Islam. Ilmu Giri Yogyakarta.
[3] Khuluq Lathiful, 2011. Fajar kebangunan ulama: biografi K.H. Hasyim Asy’ari, PT LKiS Pelangi Aksara.

[4] Fata, Ahmad Khoirul. Dan M. Ainin Najib. 2014. Kontekstualisasi Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Persatuan Umat Islam. Jurnal MIQOT Vol. XXXVIII (2): 323.

[5] Ramayulis, Nizar, Samsul, 2005, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. Quantum Teaching,  PT, Ciputat Pres Group.
[6] Khuluq Lathiful, 2011. Fajar kebangunan ulama: biografi K.H. Hasyim Asy’ari, PT LKiS Pelangi Aksara.
[7] Ibid.
[8] Khuluq Lathiful, 2011. Fajar kebangunan ulama: biografi K.H. Hasyim Asy’ari, PT LKiS Pelangi Aksara.
[9] Anshoriy Nasruddin, HM. Hendranto Agus, 2015, HOS Tjokroaminoto Pelopor Perjuangan, Guru Bangsa dan Penggerak Sarekat Islam. Ilmu Giri Yogyakarta.
[10] Mansur Suryanegara, Ahmad, 2014, Api Sejarah Jilid I. Salamadani, PT. Grafindo Media Pratama.

Jumat, 16 Oktober 2015

Di Balik Keberhasilan Sultan Muhammad Al-fatih

“Konstaninopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan yang dibawah komandonya adalah sebai-baiknya pasukan.”

 (H.R Ahmad bin Hanbal Al-Musnad)


    


Mungkin sebagian kita belum mengeal siapa Al-Fatih, yang bernama asli Muhammad bin Murad II. Al-fatih adalah nama julukan beliau yang berarti “sang penakluk”. Beliau mendapat julukan tersebut setelah usahanya berhasil menaklkan kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium yang berada di kota Kostantinopel, sekarang Istanbul, Turki. Pada waktu itu usianya masih tergolong muda yaitu umur 21 tahun, bahkan sebelumnya beliau sempat menjadi pemimpin di usia yang tergolong masih belia yaitu umur 12 tahun. Tapi karena instabilitas politik pada masa itu, terpaksa ayahnya, Sultan Murad II kembali memimpin.
Sultan Muhammad Al-Fatih lahir pada tanggal 20 April 1429 bertepatan dengan tanggal 28 Rajab 833 H. Ketika masih kecil, Muhammad Al-Fatih tidak terlalu menonjol dalam pendidikan. Dia bahkan termasuk anak yang manja dan malas belajar. Namun, setelah ayahnya menghadirkan seorang ulama Kurdi, yaitu syeh Ahmad bin Isma’il al-Kurani, sebagai gurunya, Muhammad Al-fatih mulai belajar dengan serius. Selain dengan Syekh Muhammad Al-kurani, ia juga belajar kepada Syeh ibnu Attamjid, Syeh Khairuddin, Syekh Syamsudin al-Halabi, dan beberapa ulama lainnya.
Menjenjelang remaja, seoarang Syeh lagi menadi gurunya. Dia adalah syeh Syamsudin. Nama yang terahir ini dan syeh Ahmad al-Kurani kemudian menjadi dua orang guru yang paling berpengaruh dan dipercaya oleh sultan Muhammad Al-fatih. Dari mereka Al-fatih belajar ilmu pengetahuan seperti ilmu agama, bahasa, keterampilan fisik, geografi, falak dan sejarah dalam suatu riwayat dikataan beliau menguasai 6 bahasa, dikatakan pula 7 bahasa.
Dalam usahanya menaklukan kota Kostantinopel, beliau hanya memilih prajurit-prajurit yang taat beribadah bahkan sebagian di antara mereka tidak pernah meninggalakan sholat tahajjud.bahkan beliau sendiri pun selalu merutinkan dan tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud, diriwayatkan lagi, beliau tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib.
Pelajaran yang bisa kita petik dari keberhasilan Al-fatih menaklukan kostantinopel. Bahwa semestinya kita selaku santri, pelajar atau mahasiswa menjadi orang yang visioner mempunyai cita-cita yang tinggi dan mempunyai rencana-rencana yang jelas.
Kita lihat kembali proses keberhasilan Al-fatih, diantaranya mencerdaskan IQ –nya melalui jalan mendalami ilmu pengetahuan dari guru-guru yang berkompeten dan beliau juga sangat dekat dengan ulama pada masa itu. Juga tidak kalah pentingnya dan ini yang paling utama dalam proses meraih impian, mencerdaskan SQ-nya dengan jalan mendekatkan diri pada yang Maha Besar. Beliau selalu merutinkan qiyamul lail atau sholat tahajud.
Impian besar, semistinya kita meminta kepada Yang Maha Besar pula. Karena tidak mustahil jika Yang Maha Besar sudah menghendaki hal-hal yang menurut kita tidak logis pun akan terjadi. Kita sering dibuat hawatir oleh pikiran kita sendiri dengan memprediksi hal-hal yang belum tentu terjadi, karenanya untuk bermimpi atau membangun sebuah harapan yang besar pun terkadang enggan untuk memilikinya, hal seperti inilah yang membuat kita tidak percaya pada diri sendiri dan kurang yakin akan kebesaran Allah, dari sinilah kenapa pribahasa arab mengatakan bahwa “cita-cita yang tinggi sebagian dari iman”. Memiliki impian besar sama halnya kita percaya kepad keMaha Besaran Allah. Maka dari itu, untuk mengatasi rasa psimis atas impian-impian yang sudah dirancang dan arah dan tujuannya sudah jelas perlu adanya sikap tawakal, menyerahkan seluruhnya kepada Allah.
Tawakal bukan berari kita memasrahkan urusan/impian-impian kita kepada Allah tanpa jalan usaha dari kita. Usaha sudah menjadi kewajiban setiap manusia ada pun hasil usaha adalah hak Allah semata.
Afirmasi dan doa kemudia diselaraskan dengan perilaku adalah salah satu wujud dari kita memantaskan diri untuk menerima apa yang kita harapkan kepada Allah. Impian bukan soal keinginan semata yang dipanjatkan kepada Allah, akan tetapi soal seberapa pantas kita menerima hasil dari impian kita yang dipanjatkan kepada Allah. Tentunya hal ini harus selaras dengan perilaku kita.
Semoga sedikit coretan ini bermanfaat bagi pembaca.





Cirebon, 15 Oktober 2015
Oleh: Irfa’i Al-fatih

Kamis, 14 Mei 2015

MILIKILAH PERUBAHAN

“Allah tidak akan merubah diri suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mau merubahnya”

Perubahan merupakan hukum alam (sunnatullah). Semua makhluk di muka bumi ini baik manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, tata surya dan lain-lain, semuanya mengalami perubahan tanpa terkecuali. Karena sifat dasar alam itu sendiri adalah berubah. Kita pun sebagai manusia terus-menerus mengalami perubahan baik dengan yang kita kehendakai atau pun yang tidak kita kehendaki.

Perubahan tidak dapat dihindari meskipun kita tidak menginginkan perubahan. Perubahan terus berjalan seiring berjalannya waktu. Dan semua yang ada dalam diri manusia baik karakter mau pun fisik dapat menerima dan mengalami perubahan. Perubahan fisik akan selalu terjadi tanpa kehendaki bahkan tanpa kita sadari, dari muda menjadi tua dan seterusnya. Namun, perubahan karakter atau sifat perlu adanya usaha dan pembiasaan melakukan hal-hal yang baru.

Perubahan karakter atau sifat akan mempengaruhi perubahan lingkungan sekitar dan mempengaruhi masa depan seseorang. Tentunya gagal atau pun berhasilnya seseorang dalam proses mencapai tujuan hidup atau impian seseorang.

Selamanya, kita tidak bisa menuntut perubahan pada hidup, lingkungan bahkan orang sekitar, kecuali kita mau merubah pola pikir. Pola pikir akan menghasilkan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya kebiasaan-kebiasaan itu akan menentukan perubahan dalam hidup dan lingkungan sekitar.

Menjadi Sebab, Bukan menjadi Akibat

Menjadi sebab dari perubahan hidup (akibat) itu berresiko, tapi lebih berresiko lagi menjadi akibat dari perubahan hidup. Kita adalah nahkoda, kapal yang kita kendalikan adalah nasib kita sendiri dan samudra yang dilalui adalah hidup kita. Tentunya, ketika hendak berlayar sang nahkoda harus menentukan dahulu tujuannya, kemana arahnya dan pulau mana yang akan dituju. Butuh keberanian untuk berlayar di tengah-tengah samudra, karena tentunya resiko-resiko yang akan menghadang semakin besar. Akan tetapi, karena arah dan tujuan yang sudah jelas, sang nahkoda tetap focus pada tujuannya meski pun ombak dan badai terus menghantam kapalnya. Dan ia adalah menjadi sebab dari tujuannya. Ia mendapati pulau yang dituju dan yang diinginkannya

Sebaliknya ketika sang nahkoda berlayar tanpa arah dan tujuan yang jelas, di tengah-tengah samudra ia akan kebingungan, kemana ia harus mengarahkan kapalnya. Ia memilih mengikuti arah mata angin. Dan ia menjadi akibat yang dilakukannya, ia mendapati pulau yang tidak ia inginkan, berbagai resiko pun ia rasakan dengan pulau tersebut

Begitulah gambaran hidup. Kita harus menjadi sebab dari perubahan. Menentukkan arah dan tujuan atau impian yang jelas, proses demi proses kita harus lakukan dengan sabar dan ikhlas. Sering kali orang mengatakan “biarlah hidup ini seperti air mengalir.” Pola pikir seperti itulah orang yang menjadi akibat dari perubahan. Ia pasif, tidak berusaha melakukan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Toh, ketika hidup membawa ia dalam kesengsaraan ia akan menyalahkan hidup dan orang sekitar bahkan ia selalu menyalahkan takdir “takdir tidak berpihak padaku”, ia selalu mencari berbagai alasan agar ia tidak disalahkan. Padahal siapa yang salah? Tentu dirinyalah yang salah.

 

Law of Causality

Sebab dan akibat atau yang dikenal oleh filosof dengan Law of Causality adalah hukum alam (sunnatullah). Sebab dan akibat adalah satu dari kesatuan yang selalu berkaitan, maka sebab dan akibat tidak bisa terpsahkan. Dimana ada sebab pasti ada akibat yang ditimbulkan dari sebab.

Hukum kausalitas akan menjawab semua yang dilakukan oleh seseorang baik itu negative atau pun positif, tergantung apa yang dilakukannya. Hukum kausalitas tidak bisa kita hindari. Tidak ada upaya yang berarti untuk melawan hukum ini. Hukum ini adalah pergerakkan alam yang terus menerus dan akan menimbulkan akibat dari pergerakkan tersebut. Akibat kita kenyang karena sebab kita makan, akibat adanya siang dan malam sebab karena rotasi bumi mengelilingi matahari, akibat adanya suara karena sebab adanya benda yang bergetar dan seterusnya. Maka dari itu, kita harus dapat mengatur diri kita sendiri baik dalam berpikir mau pun bertindak, karena apa yang kita pikirkan dan menjadi dominan dalam pikiran akan menjadi akibat (kebiasaan), dari kebiasaan (akibat yang menjadi sebab) akan menentukkan perubahan hidup (akibat).

Hukum sebab akibat tidak serta merta terjadi sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu, Aristotels merumuskan empat hukum terjadinya akibat.

            Causa Materialis

Sebelum saya jelaskan tentang hukum ini, terlebih dahulu saya berikan contoh. Soerang tukang pembuat meja, apa yang dilakukan terlebi dahulu? Membuat pola? Ya, kalau sudah ada bahannya. Kalau belum ada bahannya apa yang ia lakukan terlebih dahulu? Ya, mencari bahan atau kayu terlebih dahulu.

Begitu juga, ketika kita ingin menjadi apa yang kita inginkan, terlebih dahulu yang kita lakukan adalah membuat impian. Kayu adalah meterialis yang menjadi sebab adanya meja, begitu pula, impian adalah materilais yang menjadi sebab keberhasilan yang sesuai dengan yang kita impikan

            Causa Formalis

Yaitu, kita memimpikan sesuatu dan memvisualisasikan sehingga menjadi pola yang seakan-akan nyata. Sebagai contoh, tukang pembuat meja tentunya sebelum ia mulai membuat meja terlebih dahulu yang ia lakukan adalah memvisualisasikan pola mejanya dalam pikirannya.

            Causa Efficiens

Hukum ini adalah eksekusi yang dilakukan oleh tukang pembuat meja. Setelah ia mendapat bahan membuat meja dan ia membuat pola atau memvisualisasikan mejanya selanjutnya yang ia lakukan adalah mengeksekusi untuk mewujudkan mejanya. Begitu juga, ketika kita memimpikan sesuatu lalu memvisualisasikan impiannya sehingga menjadi seakan-akan nyata, selanjutnya yang kita lakukan untuk mewujudkannya adalah memulai gerakan atau mengeksekusinya.

            Causa Finalis

Setelah kita melakukan tiga tahapan di atas, dari menentukan impian, memvisualisasikannya dan melakukan tindakan selanjutnya adalah sebab akhir dari tujuan kita, yaitu suatu akibat.

Perubahan hidup (akibat) secara umum disebabkan oleh factor internal dan factor eksternal. Kedua factor ini saling kait mengkait. Factor internal bisa disebabkan oleh factor eksternal, dan sebaliknya factor eksternal pun bisa disebabkan oleh factor internal.

Perubahan hidup karena factor internal ditimbulkan oleh pola berfikir (mindset) dan apa yang menjadi dominan dalam pikiran. Dalam pola berpikir tersebut yang terus menerus sehingga tersimpan menjadi pikiran bawah sadar. Dari pikiran bahwa sadar tersebut akan menjadi kebiasaan-kebiasaan seseorang sehingga  menjadi perilaku, karakter dan tindakkan. Perilaku, karakter dan tindakan tersebut akan dapat merubah lingkungan sekitar bahkan merubah hidup seseorang.

Dan perubahan hidup yang disebabkan oleh factor eksternal ditimbulkan oleh lingkungan sekitar; keluarga, sekolah, apa yang dilihat, apa yang dibaca dan lain-lain. Otak akan merespon semua informasi dari lingkungan tersebut tanpa penyarinngan. Dan dari berbagai informasi yang diperoleh otak dari lingkungan akan membentuk pola pikir (mindset) dan seterusnya.

Dalam upaya merubah hidup, yang apaling penting adalah merubah pola pikir (mindset) dahulu. Jika seseorang bisa merubah pola pikir (mindset)nya dan pola pikir yang baru menjadi dominan dalam pikiran atau menjadi pikiran bawah sadar, maka perubahan lingkungan, keadaan dan hidup akan terjadi. David J. Schwartz Ph.D dalam bukunya yang berjudulu “Berpikir dan Berjiwa Besar” mengatakkan “Anda adalah apa yang Anda pikirkan mengenai diri Anda”

 

Oleh: Ach. Irfa’i